Keyword Research pemula
Search Volume
Angka yang ditampilkan alat keyword bukan hasil pengukuran. Ia perkiraan yang dibangun dari data yang berbeda-beda, dibulatkan, dan sering usang. Memahami dari mana angkanya membuat keputusan jauh lebih waras, terutama untuk bahasa Indonesia.
Search volume adalah perkiraan berapa kali sebuah keyword dicari di mesin pencari dalam satu bulan, biasanya dirata-rata dari 12 bulan terakhir untuk satu negara. Angkanya bukan hasil pengukuran langsung: tiap alat memperkirakannya dari sumber data dan model yang berbeda, sehingga angka untuk keyword yang sama bisa berbeda beberapa kali lipat antar-alat.
Dari mana angkanya
| Sumber | Cara memperkirakan | Kelemahan |
|---|---|---|
| Google Keyword Planner | Data internal Google Ads. Menggabungkan variasi dekat (bentuk jamak, salah eja) ke satu angka. Tanpa kampanye aktif hanya menampilkan rentang ("1 rb – 10 rb"). | Dibulatkan kasar; dibuat untuk pengiklan, bukan untuk SEO; variasi digabung sehingga angka terlihat lebih besar |
| Ahrefs, Semrush, dan sejenisnya | Kombinasi data Keyword Planner, data clickstream (panel pengguna), dan model statistik. | Panel clickstream untuk Indonesia kecil, jadi keyword berbahasa Indonesia sering di bawah ambang atau "0" |
| Google Trends | Indeks relatif 0–100 terhadap titik tertinggi dalam rentang waktu. Bukan volume. | Tidak bisa dikonversi jadi angka absolut; berguna untuk arah dan perbandingan |
| Search Console | Impresi sebenarnya untuk situs kita, bukan total pasar. | Hanya menunjukkan bagian yang situs kita sudah tampil; tetap data paling jujur yang ada |
Kenapa angka antar-alat berbeda
Tiga alasan utama, dan tidak ada yang "benar":
- Pengelompokan variasi. Keyword Planner menggabungkan "riset keyword" dan "riset keyword adalah"; alat lain memisahkannya. Total pasarnya sama, pembagiannya berbeda.
- Periode. Rata-rata 12 bulan meratakan musiman. Keyword "cara daftar cpns" bisa 10× lebih tinggi di bulan pendaftaran daripada rata-ratanya.
- Basis data. Alat hanya tahu keyword yang ada di basis datanya. Keyword bahasa Indonesia yang spesifik sering tidak ada, dan ditampilkan sebagai 0 atau tidak ditampilkan sama sekali.
Zero-volume keyword
"Volume 0" di alat berarti "tidak ada di basis data kami" atau "di bawah ambang yang kami tampilkan", bukan "tidak ada yang mencari". Untuk topik teknis berbahasa Indonesia, sebagian besar long-tail masuk kategori ini. Search Console membuktikannya tiap hari: query yang mendatangkan impresi ke situs kita sering tidak punya volume di alat mana pun.
Cara memperlakukannya:
- Kalau query-nya masuk akal dan cocok dengan audiens, tulis sebagai bagian di halaman yang relevan. Biayanya rendah.
- Kalau ada beberapa zero-volume yang satu intent, kelompokkan; secara kolektif volumenya bisa berarti.
- Setelah 2–3 bulan, cek Search Console. Kalau muncul impresi, alatnya yang salah. Kalau tidak muncul sama sekali dalam 6 bulan padahal halaman terindeks dan berperingkat, kemungkinan memang tidak ada yang mencari.
Cara memakai volume dengan benar
- Sebagai urutan relatif, bukan angka absolut. "Keyword A sekitar 5× keyword B" berguna; "keyword A 1.300 pencarian" tidak, karena bulan depan alat bisa bilang 880.
- Sebagai satu dari empat faktor prioritas, bersama kecocokan tujuan, kesulitan, dan dukungan internal link (lihat langkah prioritas).
- Dengan memeriksa tren. Keyword dengan volume 1.000 yang turun 40% per tahun kurang menarik daripada volume 300 yang naik.
- Dengan memeriksa SERP. Volume tinggi untuk query navigasional ke brand lain adalah nol untuk kita.
Mengubah volume jadi perkiraan trafik
Kalau memang perlu perkiraan, rumusnya: volume × perkiraan CTR pada posisi target × proporsi bulan yang halaman berperingkat. CTR posisi 1 pada query tanpa fitur SERP bisa 25–35%; pada query dengan AI Overview dan beberapa fitur lain bisa jauh di bawah 10%. Studi CTR industri (misalnya dari Advanced Web Ranking atau Seer Interactive) memberi angka rata-rata, tapi variasinya per query sangat besar. Perkiraan ini berguna untuk membandingkan dua opsi, tidak untuk dijanjikan ke siapa pun.
Yang perlu diingat untuk bahasa Indonesia
Basis data alat internasional untuk Indonesia lebih tipis daripada untuk bahasa Inggris. Konsekuensinya: (1) lebih banyak keyword tidak punya angka, (2) angka yang ada lebih sering usang, dan (3) autocomplete, People Also Ask, dan Search Console jadi relatif lebih penting sebagai sumber. Praktisi yang hanya mengandalkan angka alat akan melewatkan sebagian besar permintaan yang sebenarnya ada.